Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan

13 Maret 2013

IBLIS......PUN BERPIDATO.....!!!!!

Bismillahirrohmanirrohim,

Sesungguhnya segala puji hanya milik ALLAH yang menggenggam setiap jiwa-jiwa manusia, dan diwajibkan atas diri-diri kita untuk pandai bersyukur atas segala nikmat yang diberikan, karena hanya ALLAH saja yang dapat mencurahkan nikmat-nikmat kepada mahluqnya tanpa ada seorangpun yang dapat menghitung berapa banyak kenikmatan yang telah dinikmati.

Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada hamba ALLAH yang agung, seorang pemimpin yang amat sukses membawa kehidupan dari kegelapan menuju terang benderang, dari keadaan jahiliyah menuju kehidupan yang lebih baik; suri tauladan sejati, seorang yang ber-akhlak mulia Nabi Muhammad Salallahualaihiwassalam.

Di dalam menata perjalanan hidup kita sehari-hari kadangkala suatu saat tertentu kita merasakan ke- imanan sedang berada pada tingkat yang lebih baik, kita akui dapat menangkal setiap bujuk rayu syaithon (iblis), kita mentahkan semua ajakan syaithon, namun bilamana kondisi iman sedang berada pada titik lemah, kemungkinan besar ajakan ataupun rayuan syaithon (iblis)akan sangat berkesempatan kita ikuti; jadilah kita bermaksiat terhadap Allah Ta’ala dan kemungkinan kita terperosok ke lembah kehinaan yang disebabkan oleh tipu-daya, bisikan dan rayuan gombal dari syaithonirrojim.

Untuk mengetahui jerih payah para syaithon; coba kita simak tulisan di bawah ini:

21 Februari 2012

~ Bersyukur Kepada Allah Atas Anugerah Ketaatan Kepada-Nya ~

Sesungguhnya seorang manusia apabila diberikan anugerah taufik oleh Allah Ta'ala untuk melakukan ketataatan kapada-Nya hendaklah ia memuji Allah atas karunia tersebut dan mensyukurinya. Sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam hadits qudsi:

فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ.

"Barangsiapa Чαπƍ mendapatkan kebaikan maka hendaklah ia memuji Allah, dan barangsiapa Чαπƍ mendapatkan selain itu (keburukan) maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri. (HR. Muslim no: 2577).

Apabila sesorang dimudahkan dalam melakukan ketataatan, maka ketauhilah itu merupakan taufik dan anugerah Allah Ta'ala kepadanya.

Apabila ia memuji Allah عَزَّ وَجَلَّ terhadap apa Чαπƍ telah Dia anugerahkan kepadanya berupa ketaatan, berarti ia telah mensyukuri nikmat tersebut. Dan barangsiapa Чαπƍ mensyukuri nikmat Allah Ta'ala, maka Dia akan menambahkan nikmat-Nya. Allah عَزَّ وَجَلَّ berfirman:

# Gigitan Anjing Bagi Penghina Nabi صلى الله عليه وسلم #

عن جمال الدين إبراهيم بن محمد الطيبي أن بعض أمراء المغل تنصر فحضر عنده جماعة من كبار النصارى والمغل فجعل واحد منهم ينتقص النبي صلى الله عليه وسلم وهناك كلب صيد مربوط

Jamaluddin Ibrahim bin Muhammad ath Thibi bercerita bahwa ada seorang penguasa Mongol yang semula muslim berubah menjadi nasrani. Suatu hari sejumlah pembesar Nasrani dan Mongol kumpul di majelisnya. Saat itu ada salah satu dari mereka yang menghina Nabi. Di ruangan itu terdapat anjing pemburu yang terikat.

فلما أكثر من ذلك وثب عليه الكلب فخمشه فخلصوه منه

Tatkala orang tersebut berulang kali menghina Nabi, tiba tiba anjing tersebut menerkamnya dan berhasil mencakar cakar wajahnya sebelum akhirnya orang orang yang hadir bisa menyelamatkannya dari cakaran anjing

‎# HATI Itu Bagaikan Benteng #

By : Ust. Abu Faiz Muhammad Husein

Disekelilingnya ada pagar dan pagar itu mempunyai beberapa pintu. Sekalipun pintu itu ditutup rapat, namun pagar itu masih memiliki celah2 yg dpt dimasuki. Bala tentara Iblis trs menerus melancarkan serangan, agar peperangan trs berkecamuk ddlm hati.

Hanya kesempurnaan pikiran dan kejernihan dzikirlah yg dpt mjd benteng. Selama Iman ttp kokoh, mk anak panah musuh tidak akan smp dkancah peperangan. Seseorang pernah bertanya kpd Hasan al-Basri,"Apakah Iblis juga tidur?" Beliau mjwb,"Andaikata Iblis tidur, tentu kita bs beristirahat."
(Talbis Iblis, Ibnu Jauzi)
♥ ♥ ♥

Syaikh As-Sa'di berkata, "Kerasnya hati termasuk hukuman yg paling parah yg menimpa manusia. Ayat2 dan peringatan tidak lagi bermanfaat baginya. Dia tidak merasa takut melakukan kejelekan dan tidak terpacu melakukan kebaikan, shg petunjuk (ilmu) yg smp kpdnya bukan menambah kebaikannya tapi justru menambah buruk keadaannya."

Nasehat & Rahasia Jodoh

Bismillah,
Makhluk yg pertama kali Diciptakan Allah subhanahu wa ta'ala adalah al-Qalam. Dg al-qalam, Allah menuliskan takdir manusia dlm Lauhil Mahfuzh, induk segala kitab.

Salah satu yg tertulis di sana, adalah jodoh. Jadi, jodoh adalah sebuah ketetapan dari Allah Azza wa Jalla. Ia akan datang, meskipun saat ini barangkali kita belum siap, atau tak juga datang meskipun kita merasa sangat siap. Seorang guru saya pernah mengatakan, pernikahan itu ibarat kematian, kita tak bisa memprediksi, hanya bisa mempersiapkan.
Jadi, sikap terbaik menghadapi hal yg satu ini adlah TAWAKAL. Tetapi, jgn abaikan ikhtiar. Ikhtiar sangat perlu, hanya saja, Allah memiliki sifat Qudrat dan Iradat yg perlu kita hadapi dgn kepasrahan.

Ada beberapa pandangan saya mengenai pernikahan :

1. Pernikahan adalah bentuk ibadah, jd jgn pernah ada kata ITSAR dlm pernikahan. Jika ada seorang meminang, dan secara dien dia baik, kemudian kita merasa mantap, mengapa kita menolaknya?

‎# Meniti Jalan Meraih Kecintaan اَللّهُ # Sebuah Catatan Singkat dari Istiqlal

‎Ahad, 19 Februari 2012 ,
Oleh: Syaikh Prof. DR. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr

10 sebab untuk meraih kecintaan Allah subhanahu wata'ala

‎1. Memberikan perhatian yg serius terhadap Al Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya.
"Apakah mereka tidak mentadabburi Al Quran? Sekiranya Al Quran itu tidak datang dari sisi Allah, maka tentulah mereka temukan banyak pertentangan di dalamnya."

2. Mengenal asma2 Allah yang husna (baik) dan shifatnya yang tinggi/mulia.
Dan Allah memiliki nama2 yang indah, maka berdoalah dengan nama2 itu.
Orang yang paling mengenal Allah, maka dialah yang paling besar rasa takutnya pada Allah, dan paling jauh dr perbuatan maksiat.
"Sesungguhnya orang2 yang takut kepada Allah itu hanyalah orang2 yang berilmu."

15 Februari 2012

# Keadaan Kita Setelah Kematian #

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya apabila mayit telah dikuburkan, dia mendengar derap alas kaki orang yang mengantarkannya ketika kembali dari tempat pemakaman.



Jika dia seorang mukmin, maka ibadah shalat akan berada di kepalanya, puasa berada di samping kanannya, zakat di sebelah kirinya, sementara seluruh perbuatan baiknya seperti sedekah, silaturrahim, amalan yang ma’ruf dan perlakuan baiknya kepada manusia berada di kedua kakinya.
Lantas ia didatangi dari arah kepalanya, sehingga amalan shalat berkata, ‘Tidak ada tempat dari arahku (untuk mengganggu orang ini).’ Dia juga didatangi dari sebelah kanan sehingga amalan puasanya berkata, ‘Tidak ada tempat dari arahku (untuk mengganggu orang ini).’ Ia kembali didatangi dari arah kiri, sehingga amalan zakatnya berkata, ‘Tidak ada tempat dari arahku (untuk mengganggu orang ini).’ Kemudian ia didatangi dari arah kedua kakinya, sehingga segala perbuatan yang baik, seperti sedekah, silaturrahim amalan yang ma’ruf dan perlakuan kepada manusia berkata, ‘Tidak ada tempat dari arahku (untuk mengganggu orang ini).’

Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Duduklah dengan tenang!’ Orang mukmin itu duduk dan ia diibaratkan seperti matahari yang tenggelam. Para malaikat bertanya kepadanya, ‘Apa yang telah kamu katakan tentang lelaki yang diutus kepada kalian (yang dimaksud adalah Nabi Muhammad)? apa yang engkau persaksikan atasnya? Orang mukmin itu menjawab, ‘Berilah aku kesempatan untuk mengerjakan shalat terlebih dahulu.’

# Yang Perlu Dicontoh #

Malik telah meriwayatkan dalam Muwaththa’, “Bahwasanya telah sampai kepadanya dari Aisyah -istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa seorang miskin meminta kepadanya, sedang dia berpuasa dan tidak ada suatu makanan pun di rumahnya kecuali roti kering, lalu dia berkata kepada pelayannya, ‘Berikanlah roti itu kepadanya’,

pelayan itu berkata, ‘Tidak ada lagi makanan yang dapat engkau makan untuk berbuka’,

Aisyah berkata, ‘Berikanlah roti itu kepadanya’, dia berkata, ‘Lalu saya memberikannya’,


# Jangan Tertawakan Dia #

Al Bukhari rahimahullah bercerita:
“Sewaktu masih kecil, aku pergi ke majlis para fuqoha, apabila aku datang, aku merasa malu untuk mengucapkan salam kepada mereka.
seorang muaddib berkata kepadaku: “Berapa hadits yang telah kamu catat di hari ini ?”

Aku menjawab, “Dua.” Ternyata orang-orang yang berada di majlis mentertawakanku.
Salah seorang syaikh berkata, “Jangan kalian tertawa, barangkali suatu ketika nanti, dia yang akan mentertawakan kalian.”
(Siyar A’laam An Nubala 12/401).

# DAKWAH…ANTARA ASA DAN FAKTA #

Dakwah, BERTUJUAN untuk…

Mengajak … bukan … mengejek

Mengajar … bukan … meng-hajr

Membina … bukan … menghina

Menasehati … bukan … menusuk hati

DAKWAH akan LANCAR dengan…

Menabur kasih … bukan … menguburnya

Menggalang kekuatan … bukan … menggulungnya

16 Oktober 2009

Amalan Sunnah Ba'da (setelah) Sholat Jum'at

Penulis: Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Terdapat beberapa hadits yang berkaitan dengan sunnah setelah sholat Jum'at yang menunjukkan akan masyru'iyahnya (disyariatkannya) amalan ini, di antara hadits-hadits itu adalah:

Pertama: diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah bin Umar radliyallahu 'anhuma, bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam sholat setelah Jum'at dua raka'at di rumahnya.

Kedua: diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari sahabat Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian shalat Jum'at maka hendaklah shalat setelahnya empat raka'at."

Ketiga: dari Ibnu Umar, diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam shalat setelah Jum'at enam raka'at.

Maka sunnah ba'da shalat Jum'at adalah dua raka'at atau empat raka'at atau enam raka'at, akan tetapi, apakah sunnah ini menunjukkan atas bentuk yang bermacam-macam ataukah pada keadaan yang berbeda-beda? Terdapat perselisihan di dalamnya.

Pendapat pertama beranggapan bahwa ini menunjukkan pada keadaan yang berbeda-beda, yakni jika engkau sholat ba'da Jum'at di masjid, maka sholatlah empat raka'at, dan jika sholatnya di rumah, maka sholatlah dua raka'at. Ini pendapatnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Lihat Zaadul Ma'aad 1/ 440).

Pendapat kedua menganggap bahwa sunnah ini menunjukkan atas bentuk / praktek yang bermacam-macam, yakni kadang-kadang sholat dengan empat roka'at atau sesekali dengan dua roka'at. Adapun pendapat yang ketiga menegaskan bahwa sunnah ba'da shalat Jum'at itu empat raka'at, karena apabila perkataan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bertentangan dengan perbuatannya maka didahulukan perkataannya.

Yang lebih utama bagi seseorang, yang tentunya kami lihat lebih rajih / kuat ialah kadang-kadang shalat dengan empat raka'at dan sesekali sholat dengan dua raka'at, dan adapun yang enam raka'at, maka dhahir hadits Ibnu Umar ialah bahwa Rasulullah pernah melakukannya. Wal ilmu indallah.
(Lihat Syarhul Mumti': 5 / 102-103).

http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=144

25 Juli 2009

Mengucapkan Allahu A'lam Bila Tidak Tahu

(Ilmu itu sebelum berkata dan beramal)

Oleh Muhammad Yassir

Allah berfirman:
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur. (An-Nahl: 78)
Inilah keadaan gambaran manusia ketika pertama kali ia lahir ke dunia yang fana ini. Ia tidak mengetahui apa-apa, hanya menangis dan tidur yang bisa ia lakukan. Akan tetapi, Allah yang maha Pemurah memberikan kepadanya beberapa sarana dari anggota tubuhnya yang dapat dipergunakan untuk mengetahui banyak hal yang masih asing baginya.
Pendengaran, penglihatan, dan hati (akal). Inilah sarana yang sangat berperan dalam menuntut ilmu. Yaitu untuk mendengar, melihat, dan memahami ayat-ayat tanda kebesaran Allah dengan tujuan pada akahirnya manusia dapat mengetahui dan mewujudkan tujuan penciptaannya di muka bumi ini, yaitu beribadah semata-mata kepada Allah.
Allah telah memberi peringatan dan ancaman yang keras bagi manusia dan jin yang tidak menggunakan pendengaran, penglihatan, dan hati mereka pada tempat semestinya yang diridhoi dan diperintahkan Allah, yaitu untuk mentauhidkannya. Mereka digambarkan bagaikan binatang ternak, bahkan lebih hina.
Di antara manusia ada yang mampu menggunakan sarana-sarana di anggota tubuhnya untuk menuntut ilmu syar'i yang digali dari Al-Quran dan Sunnah Rasulullah. Merekalah para ulama dan penuntut ilmu di jalan Allah.
Namun, berapapun banyaknya pembendaharaan ilmu yang dimiliki oleh manusia, seluas apapun bidang ilmu yang mampudikuasainya, hanyalah sedikit sekali dari pemberian Allah: Allah berfirman:
Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit (Al-Isra:85)
Hendaklah seorang alim maupun penuntut ilmu mengetahui kadar ilmu yang ia miliki. Agar ia hanya berkata dan menjawab sebatas apa yang diketahuinya ketika ia memikul tangggung jawab untuk menjawab pertanyaan orang-orang awam. Selebihnya, ia hanya bisa menyerahkan kepada Allah dengan menjawab "Allahu A'lam (Allah lebih mengetahui)" atau "Saya tidak tahu".
Ucapan ini bukanlah menunjukkan kebodohan seseorang, tapi malah merupakan suatu sikap yang sangat terpuji dan mulia, akhlaq sunni yang diwariskan dari Rasulullah dan para Sahabat beliau, menunjukkan sifat wara' dan tawadhu' seseorang di hadapan syariat Allah. Karena, di atas orang alim ada yang lebih alim.
Telah mendahului kita para hamba Allah yang mulia dalam mengakui ketidaktahuannya. Beberapa contoh di antaranya:
1. Para malaikat.
Firman Allah Dalam Al-Quran:
Allah berkata kepada para malaikat, "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar !"Para malaikat menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Al-Baqarah: 31-32)
2. Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam.
Firman Allah Dalam Al-Quran:
Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu (atas dakwahku), dan aku bukan termasuk orang yang mengada-ada."(shad: 86)
Ibnu Mas'ud berkata: "Barang siapa mengetahui sesuatu hendaklah ia berkata dengan pengetahuannya itu. Sedangkan yang tidak mengetahui hendaklah ia mengucapkan "Allahu A'lam (Allah lebih mengetahui)". Karena, sesungguhnya Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya: Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu (atas dakwahku), dan aku bukan termasuk orang-orang yang mengada-ada."
Begitu pula ketika Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam ditanya oleh Malaikat Jibril (dalam sebuah hadis yang panjang) tentang kapan terjadinya Hari Kiamat. Beliau menjawab:Tidaklah yang ditanya lebih mengetahui daripada yang bertanya.(HR. Muslim)
3. Kisah para Sahabat Rasulullah dan para ulama yang berjalan mengikuti jejak mereka. Di antaranya:
- Abu Bakar. Beliau pernah ditanya tentang ayat-ayat Al-Quran. Beliau berkata: Bumi manakah yang akan menampungku, dan langit mana yang akan menaungiku (maksudnya kemanakah aku akan pergi melangkah), jika aku berkata tentang ayat-ayat dalam Kitab Allah, berbeda dengan maksud yang diinginkan Allah."
Beliau merasa khawatir untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Quran tanpa ilmu.
- Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang suatu permasalahan, beliau menjawab "Saya tidak tahu". Kemudian beliau berkata lagi "Alangkah sejuknya hati ini" (tiga kali). Orang- orang bertanya: "Ya Amirul Mukminin, apa maksud perkataanmu itu ?". Beliau menjawab: "Yaitu apabila seseorang ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya ia menjawab "Allahu A'lam".
- Ibnu Umar pernah ditanya: "Apakah bibi dari pihak bapak ikut mewarisi harta warisan ?". Beliau menjawab: "Saya tidak tahu". Yang bertanya menimpali: "Jadi anda tidak tahu dan kami pun tidak tahu ?". Ibnu Umar menjawab: "Ya, pergilah ke ulama-ulama di Madinah dan tanyailah mereka". Setelah orang yang bertanya tadi berlalu, Ibnu Umar mencium kedua tangannya seraya berkata: "Alangkah indahnya perkataan Abu Abdurrahman (Ibnu Umar) ketika ia ditanya yang tidak diketahuinya ia berkata ' Saya tidak tahu' ".
- Para Shahabat Rasulullah lainnya juga selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam yang tidak mereka ketahui dengan ucapan "Allahu wa Rasuluhu A'lam" (Allah dan Rasulullah lebih mengetahui)
Seperti kisah Umar bin Khattab ketika beliau ditanya Rasulullah tentang laki-laki berpakaian serba putih dan berambut hitam legam yang datang bertanya kepada Rasulullah masalah Islam, Iman, Ihsan, dan Hari Kiamat. Umar bin Khattab menjawab "Allahu wa Rasuluhu A'lam (Allah dan Rasulullah lebih mengetahui)
- Imam Asy-Sya'by pernah ditanya tentang sesuatu, beliau menjawab: "Saya tidak tahu". Tapi beliau malah ditanya lagi: "Apakah engkau tidak malu mengucapkan tidak tahu, sedangkan engkau seorang ahli fiqih di Iraq ?". Asy-Sya'by menjawab: "Tetapi Malaikat tidak malu untuk berkata: 'Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang engkau ajarkan kepada kami' ".
- Ibnu Wahb berkata: "Saya mendengar Imam Malik sering berkata 'saya tidak tahu', seandainya kami menulis ucapannya itu pasti akan memenuhi lembaran yang banyak."
Itulah ketawadhuan yang dimiliki oleh orang-orang yang terbaik dari umat ini, kemudian diwarisi oleh para ulama sesudah mereka. Mereka tidak segan untuk mengucapkan tidak tahu, dan tidak malu untuk mengucapkan Allahu A'lam.
Mereka sangat paham, bahwa ucapan itu tidak akan menurunkan derajat keilmuan mereka. Bahkan, ucapan itu menunjukkan keilmuan dan kefaqihan seseorang.
Karena, hanya orang-orang bodohlah yang berani berbicara tanpa dilandasi ilmu. Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Sesunggahnya Allah tidak akan mencabut ilmu secara sekaligus. Tetapi,Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama. Sehingga, apabila tidaktersisa lagi orang alim, manusia mengangkat pemimpin yang bodoh, mereka ditanyai dan berfatwa tanpa didasari ilmu, mererka sesat lagi menyesatkan".(HR. Bukhari dan Muslim)
Alangkah sangat memilukan pemandangan yang dapat kita saksikan di sekitar kita. Memasyarakatnya bid'ah dan menyebarnya kerancuan, salah satu penyebabnya adalah karena fatwa yang tidak didasari ilmu dari orang-orang yang diulamakan; dianggap cendekiawan; atau dijuluki pemikir Islam oleh mayarakat awam. Mungkin merasa gengsi untuk mengucapkan tidak tahu di depan para penggemarnya. Allahu Musta'an…… .
Marilah kita mengoreksi diri kita masing-masing, agar kita mengetahui kedudukan kita dibanding para sahabat Rasulullah dan ulama umat ini untuk berfatwa dalam syariat Allah. Mari kita ambil pelajaran dari nasehat Abu Dziyal: "Belajarlah mengucapkan 'saya tidak tahu', jangan kamu belajar mengucapkan 'saya tahu'. Karena, jika kamu mengatakan 'saya tidak tahu’, kamu akan diajarkan sampai kamu tahu. Tapi,kalau kamu mengatakan 'saya tahu', kamu akan terus ditanyai sampai akhirnya kamu mengucapkan 'tidak tahu' ".

Maraji': Hilyatul 'Alimil Mu'allim wa Bulghatut Thalibil Muta'allim, Salim Al-Hilaly.

21 Juli 2009

Hukum Menggunakan Smiley Atau Ekspresi Wajah Di YM

Tanya: Assalamu'alaikum. Ustadz,bagaimanakah hukum smiley seperti yang ada di YM? Apakah smiley termasuk gambar yang menyerupai makhluk hidup? Jazakallahu khoiran. (Ikhsan Jaya)


Jawab:
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu.
Menurut pendapat yang kuat bahwa menggambar mahluk bernyawa dengan menghilangkan sebagian anggota badan, yang orang tidak mungkin hidup tanpanya (seperti menghilangkan dada, perut), dengan tetap menyisakan kepalanya termasuk di dalam larangan menggambar mahluk bernyawa
Ini adalah pendapat sebagian Syafi'iyyah (Lihat Nihayatul Muhtaj 6/375, Asna Al-mathalib wa Hasyiyatuhu 3/226), dan pendapat sebagian Hanabilah zaman sekarang (Lihat Fatawa wa Rasail Syeikh Muhammad bin Ibrahim 1/189-190)

Diantara dalil-dalilnya:
1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
((أتاني جبريل عليه السلام فقال لي أتيتك البارحة فلم يمنعني أن أكون دخلت إلا أنه كان على الباب تماثيل وكان في البيت قرام ستر فيه تماثيل وكان في البيت كلب فمر برأس التمثال الذي في البيت يقطع فيصير كهيئة الشجرة ومر بالستر فليقطع فليجعل منه وسادتين منبوذتين توطآن ومر بالكلب فليخرج)) ففعل رسول الله صلى الله عليه و سلم
"Jibril 'alaihissalam telah datang kepadaku seraya berkata: Aku telah datang kepadamu tadi malam, dan tidaklah menghalangiku untuk masuk (rumah) kecuali karena ada patung di depan pintu, ada tirai yang bergambar (mahluk hidup), dan ada anjing di rumah. Maka hendaklah dipotong kepala patung yang ada di rumah sehingga berbentuk pohon, dan hendaklah tirai tersebut dipotong kemudian dijadikan dua bantal yang dijadikan sandaran, dan hendaknya anjing tersebut dikeluarkan, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukannya" (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzy, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany)

Di dalam hadist ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hanya membolehkan keberadaan gambar mahluk bernyawa jika dilakukan salah satu dari 2 perkara:
Pertama: Dipotong kepalanya
Kedua: Dihinakan (digunakan untuk perkara-perkara yang tidak ada penghormatan di dalamnya)
Dan bukan dengan cara menghilangkan anggota badan lain (selain kepala) yang orang tidak mungkin hidup tanpanya, seperti menghilangkan dada atau perut

Berkata Syeikh Bin Baz:
(( ويستدل بالحديث المذكور أيضا على أن قطع غير الرأس من الصورة كقطع نصفها الأسفل ونحوه لا يكفي ولا يبيح استعمالها ، ولا يزول به المانع من دخول الملائكة ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بهتك الصور ومحوها وأخبر أنها تمنع من دخول الملائكة إلا ما امتهن منها أو قطع رأسه ، فمن ادعى مسوغا لبقاء الصورة في البيت غير هذين الأمرين فعليه الدليل من كتاب الله أو سنة رسوله عليه الصلاة والسلام ))
"Hadist di atas dijadikan dalil bahwa memotong selain kepala seperti memotong separuh badan bagian bawah atau yang semisalnya adalah tidak cukup dan tidak boleh menggunakannya, dan ini tetap menjadi penghalang masuknya malaikat (ke dalam rumah), karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengoyak gambar dan menghapusnya, dan beliau mengabarkan bahwa hal ini menghalangi malaikat masuk rumah, kecuali gambar yang dihinakan atau dipotong kepalanya. Maka barangsiapa yang memiliki alasan tetap dipajangnya gambar di rumah selain kedua alasan ini maka wajib baginya mendatangkan dalil dari kitabullah dan sunnah RasulNya." (Majmu' Fatawa Syeikh Bin Baz 4/219)

2. Hadist Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma :
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
الصورة الرأس فإذا قُطِع الرأس فلا صورة
"Gambar itu kepala, jika dipotong kepala maka tidak ada gambar" (HR. Al-Isma'ili di dalam Mu'jamnya, dari Ibnu 'Abbas, Dishahihkan Syeikh Al-Albany di Ash-Shahihah 4/554)
Di dalam hadist ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjadikan ada tidaknya kepala sebagai ukuran boleh tidaknya keberadaan gambar mahluk bernyawa. Jika kepalanya ada maka tidak boleh, dan jika kepalanya tidak ada maka boleh.

3. Jangan kita qiyaskan hal ini dengan masalah memotong kepala dan menyisakan badannya karena 2 hal:
Pertama: Kepala ini adalah anggota badan yang paling utama, yang membedakan antara mahluk bernyawa dengan pohon dan benda mati.
Kedua : Badan kalau dipotong kepalanya maka akan seperti bentuk pohon, sebagaimana dalam hadist , akan tetapi kalau kepala dipotong badannya saja maka tetap berbentuk mahluk yang bernyawa.
Berkata Syeikh Bin Baz:
ولأن النبي صلى الله عليه وسلم أخبر أن الصورة إذا قطع رأسها كان باقيها كهيئة الشجرة ، وذلك يدل على أن المسوغ لبقائها خروجها عن شكل ذوات الأرواح ومشابهتها للجمادات ، والصورة إذا قطع أسفلها وبقي رأسها لم تكن بهذه المثابة لبقاء الوجه ، ولأن في الوجه من بديع الخلقة والتصوير ما ليس في بقية البدن ، فلا يجوز قياس غيره عليه عند من عقل عن الله ورسوله مراده . وبذلك يتبين لطالب الحق أن تصوير الرأس وما يليه من الحيوان داخل في التحريم والمنع؛ لأن الأحاديث الصحيحة المتقدمة تعمه
"Dan juga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan bahwa gambar kalau dipotong kepalanya maka sisanya seperti bentuk pohon, ini menunjukkan bahwa alasan kenapa diperbolehkan adalah karena dia bukan lagi berbentuk mahluk yang bernyawa. Dan dia lebih serupa dengan mahluk mati. Dan gambar kalau dipotong bawahnya kemudian tersisa kepalanya maka jadinya bukan seperti itu (tidak berganti menjadi bentuk mahluk mati), dan juga wajah ini di dalamnya ada keindahan penciptaan dan gambar yang tidak ada di anggota badan yang lain. Maka tidak boleh anggota badan diqiyaskan kepada kepala bagi orang yang memahami maksud Allah dan rasulNya. Dengan demikian jelas bagi pencari kebenaran bahwa menggambar kepala mahluk hidup adalah terlarang karena keumuman hadist-hadisy yang shahih" (Majmu' Fatawa Syeikh Bin Baz 4/219).

Berkata Syeikh Al-Albany rahimahullah:
((أن قوله " حتى تصير كهيئة الشجرة " ، دليل على أن التغيير الذي يحل به استعمال الصورة ، إنما هو الذي يأتي على معالم الصورة ، فيغيرها حتى تصير على هيئة أخرى مباحة كالشجرة . و عليه فلا يجوز استعمال الصورة و لو كانت بحيث لا تعيش لو كانت حية كما يقول بعض الفقهاء ، لأنها في هذه الحالة لا تزال صورة اسما و حقيقة ، مثل الصور النصفية ، و أمثالها))
"ٍٍٍSesungguhnya ucapan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam: "Sampai menjadi bentuk pohon" dalil bahwasanya perubahan yang membolehkan penggunaan gambar adalah perubahan pada tanda-tanda (yang menjadikan) gambar (itu hidup) , sehingga menjadi bentuk lain yang diperbolehkan seperti pohon, oleh karenanya tidak boleh menggunakan gambar (mahluk bernyawa) meskipun dia tidak mungkin hidup dengan cara seperti itu, karena dalam keadaan seperti ini dia masih gambar mahluk bernyawa baik nama maupun hakikatnya, seperti foto setengah badan dan yang semisalnya" (Silsilah Al-Ahadist Ash-Shahihah 1/693)

Dengan demikian kita bisa mengambil kesimpulan bahwa penggunaan smiley atau icon atau الوجوه التعبيرية (ekspresi wajah) seperti yang ada di YM tidak diperbolehkan. Apalagi terkadang di dalamnya ada hal yang tidak sesuai dengan adab islami.Alhamdulillah, perasaan masih bisa kita ungkapkan dengan kata-kata.
Wallahu a'lam.

20 Juli 2009

JILBAB

“Seorang wanita muslim tidak boleh menunda berjilbab hanya karena merasa pengetahuan agamanya masih minim.”

Memakai jilbab adalah kewajiban setiap perempuan Muslim.

Please open holy Qur’an: Al-A’raf: 26, An-Nuur: 31, Al-Ahzab: 59

“Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat.” (QS. Al-A’raf: 26)

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau puta-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 24)

“wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya* ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

DIHARAMKAN MEMOTONG JENGGOT DAN MEMENDEKKANNYA (Oleh: Syaikh Al-Albani rahimahullah)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Berbedalah dengan orang-orang musyrik, cukurlah kumis dan biarkan jenggot." (HR. Muslim, no. 1538)

Al-Hafizh berkata dalam 'al-Fath (X/296): "Ini merupakan maksud dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu: "Sesungguhnya kebiasaan orang-orang musyrik adalah memendekkan jenggot dan ada yang mencukurnya sampai habis."

Dalam hadits ini mengandung isyarat yang kuat, bahwa memendekkan jenggot -sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian jama'ah- posisinya seperti mencukurnya, yaitu dari segi tasyabbuh (penyerupaan kepada orang musyrik). Hal ini tidak dibolehkan. Dan amalan sunnah yang berjalan di kalangan salaf dari para sahabat dan lainnya adalah membiarkan jenggot kecuali yang melebihi genggaman tangan, maka dibolehkan memotong kelebihannya.

Adh-Dha'ifah (6/1250)

(Dikutip dari Taujiihu as-Saari Likhtiyaraat al-Fiqhiyyah li as-Syaikh Al-Albani, edisi Indonesia: Ensiklopedi Fatwa Syaikh Albani, penerbit Pustaka As-Sunnah, cetakan pertama th' 2005)

Awas JIL

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam shahihnya :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ حَدَّثَنَا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا هِلَالُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي عَمْرَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

Muhammad bin Sinan menuturkan kepada kami. Dia berkata; Fulaih bin Sulaiman menuturkan kepada kami. Dia berkata; Hilal bin Ali menuturkan kepada kami dari Abdurrahman bin Abi ‘Amrah dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku adalah orang yang paling dekat dan paling mencintai Isa bin Maryam di dunia maupun di akhirat. Para nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka berlainan, dan agama mereka adalah satu.” (HR. Bukhari dalam Kitab Ahadits al-Anbiya’, lihat Fath al-Bari [6/550]. Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam Kitab al-Fadha’il dengan redaksi yang agak berbeda)

Hadits yang agung ini menyimpan pelajaran berharga bagi kita, antara lain :

1. Ibnu Hajar mengatakan, “Makna hadits ini adalah pokok agama mereka -para nabi- adalah satu/sama yaitu tauhid, meskipun cabang-cabang syari’at mereka berbeda-beda…” (Fath al-Bari [6/549])
2. Hadits ini menunjukkan bahwa agama para nabi yang diutus oleh Allah di muka bumi ini adalah tauhid yaitu memurnikan segala bentuk ibadah kepada Allah semata. Hal itu sebagaimana firman Allah (yang artinya), “Allah mensyari’atkan bagi kalian ajaran agama yang telah Allah wasiatkan kepada Nuh, dan sebagaimana juga Kami wahyukan kepadamu, dan yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu hendaknya kalian menegakkan agama dan tidak berpecah belah di dalamnya…” (QS. as-Syuura : 13). Ibnu Katsir menjelaskan di dalam tafsirnya bahwa agama yang diajarkan oleh segenap para nabi itu adalah beribadah kepada Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, meskipun syari’at mereka berbeda-beda (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [7/147]). Hal itu sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah (yang artinya), “Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad) melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa; tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, oleh sebab itu sembahlah Aku.” (QS. al-Anbiyaa’ : 25).
3. Hadits ini merupakan bantahan telak bagi kaum atheis yang menolak agama.
4. Hadits ini juga merupakan bantahan bagi kaum Nasrani yang mengaku mengikuti Nabi Isa ‘alaihis salam namun tidak mau tunduk kepada ajaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ia juga menjadi bantahan bagi kaum Yahudi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah mendengar kenabianku seorang di kalangan umat ini, Yahudi ataupun Nasrani lalu meninggal dalam keadaan tidak mengimani ajaranku melainkan dia pasti termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).
5. Hadits ini merupakan bantahan telak bagi kaum Liberal dan Pluralis (semacam JIL dan begundal-begundalnya) yang mengatakan bahwa semua agama itu benar; maksud mereka Yahudi, Nasrani dan Islam adalah dilandaskan pada monothesime (baca: tauhid) –oleh sebab itu ada di antara mereka yang menulis buku dengan judul ‘Tiga agama satu tuhan’ [?!}– dengan alasan bahwa semua agama itu adalah diturunkan oleh Ibrahim ‘alaihis salam. Sungguh dangkal akal mereka, sepertinya mereka belum pernah membaca -atau pura-pura tidak tahu- ayat (yang artinya), “Ibrahim bukanlah seorang Yahudi ataupun Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang bertauhid dan muslim, dan dia sekali-kali bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran : 67). Allah juga berfirman (yang artinya), “Sungguh telah kafir orang yang mengatakan bahwa al-Masih putra Maryam itu adalah Allah, sedangkan al-Masih sendiri mengatakan, ‘Hai bani Isra’il, sembahlah Allah Rabbku dan Rabb kalian, sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan sama sekali tidak ada penolong bagi orang-orang yang zalim itu.” (QS. al-Maa’idah : 72). Nah, itulah jadinya kalau orang belajar Islam kepada Orientalis…, bukannya pinter malah jadi keblinger! Hadahumullah!

http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/04/28/agama-mereka-satu/#more-766

Sakaratul Maut dan Khusnul Khatimah

Oleh: Abdurrahman ibn Abdil Ghaits

Orang yang meregang nyawa, di ambang pintu kematian mengalami rasa sakit yang bukan alang kepalang. Saat-saat kritis itulah yang disebut dengan sekarat atau sakratul maut.

Kematian yang wajar dan normal dapat dikenali dengan beberapa tanda. Di antara tanda-tanda datangnya kematian itu adalah:

1. Orang yang mau meninggal akan melihat malaikat maut. Jika dia termasuk calon orang yang berbahagia maka dia akan melihat malaikat maut dalam rupa yang bagus, dan melihat malaikat rahmat berwajah putih. Mereka membawa kafan dan tikar dari sorga. Mereka duduk dari padanya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut seraya duduk di sisi kepalanya dan berkata: “Keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya!” Adapun jika dia termasuk calon orang yang celaka, maka dia akan melihat malaikat maut dalam rupa yang lain, serta melihat malaikat adzab menghitam wajahnya. Mereka membawa kafan dan tikar dari api neraka. Kemudian datanglah malaikat maut seraya duduk di sisi kepalanya dan memberinya kabar gembira dengan kemurkaan Allah atasnya, dan dia melihat tempat duduknya di neraka. Berkatalah malaikat maut: “Keluarlah wahai jiwa yang keji, dan bergembiralah dengan kemurkaan dan kemarahan Allah!”

2. Dengan keadaan yang demikian, saat orang yang mau meninggal melihat malaikat maut, diapun lemas, tidak bisa berkutik, mual, merasakan pedihnya sekarat, dan kesusahan, tidak mampu berkata-kata. Dia mendengar tapi tidak mampu menjawab, melihat tapi tidak mampu menerangkannya, hatipun kacau, detak jantung sudah tidak beraturan, kadang dia tersadar, kadang dia pingsan karena pedihnya sakaratul maut. Ya Allah, tolonglah kami atas sakaratul maut.

Tanda-tanda yang menunjukkan seseorang itu telah meninggal:
1. Terbelalaknya mata, berdasarkan hadits Ummu Salamah, dia berkata : “Rasulullah masuk kepada Abu Salamah, sementara matanya telah terbelalak kemudian Nabi memejamkannya seraya bersabda: ”Sesungguhnya jika roh itu dicabut, mata akan mengikutinya….” (HR. Muslim dan Ahmad)
2. Condongnya hidung kearah kanan atau kiri
3. Kendur (terbuka)nya rahang bawah, karena kendurnya seluruh anggota tubuh secara umum.
4. Diam dan berhentinya detak jantung.
5. Mendinginnya seluruh tubuh secara umum.
6. Merapatnya betis kanan dengan betis kiri, dan sebaliknya berdasarkan firman Allah : “Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan).” (QS. al-Qiyamah: 29)

Apa yang harus kita lakukan setelah kita yakin akan kematiannya?
1. Memejamkan kedua matanya
2. Menutupkan mulutnya
3. Melemaskan tulang-tulang persendian seketika, satu jam setelah kematiannya, untuk memudahkan pemindahan, pemandian dan pengkafanannya.
4. Meletakkan pemberat yang sesuai di atas perutnya agar tidak menggelembung jika tidak disegerakan prosesi pemandiannya.
5. Menutup seluruh lubang tubuh hingga diselenggarakan perawatannya.
6. Mempercepat penyelenggaraan jenazah, berdasarkan sabda Nabi “Bersegeralah kalian (menyelenggarakan) jenazah, jika dia shalih, maka sebuah kebaikan telah kalian ajukan, jika selain itu maka sebuah keburukan yang kalian letakkan dari leher-leher kalian.” (HR. Bukhari)
7. Bersegera membayarkan hutangnya, berdasarkan hadits Abu Hurairah dari Nabi beliau bersabda:”Jiwa seorang mukmin tergadaikan oleh hutangnya hingga dilunasi.” (HR. Turmudzi)

Khusnul khatimah dan tanda-tandanya:
1. Hadits pertama dari Mu’adz, dia berkata, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa akhir ucapannya di dunia ini adalah Laa Ilaha Ilallah, dia masuk sorga.” (HR. Abu Dawud, dan al-Hakim)
2. Hadits kedua dari Buraidah ibn Hushaib dia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda: “Kematian seorang mukmin (ditandai dengan) keringat di dahi.” (HR. Ahmad, Nasa’i, Turmudzi dan lainnya)
3. Hadits ketiga dari Abdullah ibn ‘Amr, dia berkata, Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorang muslimpun yang meninggal pada hari jum’at atau malam jum’at melainkan dia akan dibebaskan dari siksa kubur.” (HR. Turmudzi)
4. Dan di antara tanda khusnul khatimah adalah mati di saat menjalankan keta’atan kepada Allah dan rasul-Nya, seperti meninggal dalam keadaan shalat, atau puasa, atau haji, umrah atau dalam keadaan berjihad di jalan Allah atau dalam dakwah kepada Allah. Dan barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, Dia akan memberinya taufik untuk beramal shalih kemudian mencabut nyawanya.
5. Pujian baik oleh sekumpulan kaum muslimin atasnya, berdasarkan hadits Anas, dia berkata, (Para sahabat) pernah melewati sebuah jenazah, kemudian mereka memuji kebaikan atasnya. Maka Nabi bersabda: “Wajib.” Kemudian mereka melewati sebuah jenazah yang lain, lalu mereka mengutarakan keburukannya. Maka Nabi bersabda: “Wajib.” Maka Umar berkata: “Apa yang wajib?” Beliau bersabda:
“Yang ini kalian menyebut baik atasnya, maka wajib baginya sorga, sementara yang itu kalian menyebut buruk atasnya maka wajib baginya neraka, kalian adalah saksi Allah di bumi-Nya.” (HR. Bukhari Muslim)
6. Tanda-tanda yang bisa dilihat dari si mayit setelah kematiannya:
a. Senyuman di wajah
b. Terangkatnyajari telunjuk, yang menunjukkan syahadat tauhid
c. Bersinar, dan bercahayanya wajah karena kegembiraan menerima kabar gembira yang didengarnya dari malaikat maut.

Adapun tanda su’ul khatimah banyak dan bermacam-macam, di antaranya:
1. Mati di atas kesyirikan, atau meninggalkan shalat dengan meremehkan perintah-perintah Allah dan rasul-Nya, begitupula mereka yang mati saat mendengarkan nyanyian (musik), suara seruling, sinema, atau film komedi, dan mereka yang mati di atas perbuatan-perbuatan keji secara umum, begitupula yang mati dengan khamr (miras) dan narkoba.
2. Di antara tanda yang tampak pada mayat setelah kematiannya adalah; murung, gelap dan menghitamnya wajah, karena kengerian yang dirasakan saat mendengar berita buruk tentang murka Allah dari malaikat maut. Kadang-kadang warna hitam ini menyelimuti seluruh tubuh -wal ‘iyadzu billah-.

Saya nasihatkan kepada orang-orang yang sembrono dalam menunaikan ibadah shalat —terutama yang meninggalkannya— agar segera bertaubat kepada Allah, dan segera menjaga shalat tersebut hingga mendapatkan kekhusyu’an di dalamnya. Dikarenakan shalat adalah tiang agama Islam, dan sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat sebagaimana suri tauladan dan Nabi kita Muhammad telah mengajarkan: “Perjanjian antara kita dan mereka (orang-orang munafik) adalah shalat, maka barangsiapa meninggalkannya, dia telah kufur.” (HR. Ahmad dan Malik)

Shalat adalah sebenar-benar perisai bagi pelakunya, dialah pencegah dari perbuatan keji dan munkar, Allah berfirman : “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Maka di manakah anda —mudah-mudahan Allah menjaga anda- dari perisai ini?! Di manakah anda dari sungai yang akan menghapus dosa-dosa anda sebanyak lima kali dalam sehari semalam ini? Bertaubatlah saudaraku sekarang juga, sebelum hilangnya kesempatan! Dan sebelum datangnya malaikat maut secara tiba-tiba. Dikarenakan panen dari sesuatu yang telah engkau tanam di dunia dimulai saat malaikat maut memerintahkan ruh untuk keluar darimu. Maka bercocok tanamlah kebaikan, engkau akan senang dengan hasilnya!

Adapun orang yang berpaling dari kebaikan ini, dan dia meninggalkan shalat, maka tanda-tanda su’ul khatimahnya adalah hitam yang menyelimuti seluruh tubuhnya saat jenazahnya dimandikan. Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan.

(Abdurrahman ibn Abdil Ghaits; dalam Kitab Al-Wajiz fi Tajhizil Jinazah)

Disalin oleh oryza dari Qiblati edisi 02 tahun 02

05 Juli 2009

Macam-Macam Bid’ah di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan barakah dan penuh dengan keutamaan. Allah subhanahu wa ta’ala telah mensyariatkan dalam bulan tersebut berbagai macam amalan ibadah yang banyak agar manusia semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Akan tetapi sebagian dari kaum muslimin berpaling dari keutamaan ini dan membuat cara-cara baru dalam beribadah. Mereka lupa firman Allah ta’ala, “Pada hari ini Aku telah menyempurnakan agama kalian.” (QS. Al-Maidah: 3). Mereka ingin melalaikan manusia dari ibadah yang disyariatkan. Mereka tidak merasa cukup dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau ridhwanullahi ‘alaihim ajma’iin.

Oleh sebab itu pada tulisan ini kami mencoba mengangkat beberapa amalan bid’ah yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin, yaitu amalan-amalan yang dilakukan akan tetapi tidak diajarkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabat beliau, semoga dengan mengetahuinya kaum muslimin bisa meninggalkan perbuatan tersebut.

Bid’ah Berzikir Dengan Keras Setelah Salam Shalat Tarawih

Berzikir dengan suara keras setelah melakukan salam pada shalat tarawih dengan dikomandani oleh satu suara adalah perbuatan yang tidak disyariatkan. Begitu pula perkataan muazin, “assholaatu yarhakumullah” dan yang semisal dengan perkataan tersebut ketika hendak melaksanakan shalat tarawih, perbuatan ini juga tidak disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula oleh para sahabat maupun orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Oleh karena itu hendaklah kita merasa cukup dengan sesuatu yang telah mereka contohkan. Seluruh kebaikan adalah dengan mengikuti jejak mereka dan segala keburukan adalah dengan membuat-buat perkara baru yang tidak ada tuntunannya dari mereka.

Membangunkan Orang-Orang untuk Sahur

Perbuatan ini merupakan salah satu bid’ah yang tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak pernah memerintahkan hal ini. Perbedaan tata-cara membangunkan sahur dari tiap-tiap daerah juga menunjukkan tidak disyariatkannya hal ini, padahal jika seandainya perkara ini disyariatkan maka tentunya mereka tidak akan berselisih.

Melafazkan Niat

Melafazkan niat ketika hendak melaksanakan puasa Ramadhan adalah tradisi yang dilakukan oleh banyak kaum muslimin, tidak terkecuali di negeri kita. Di antara yang kita jumpai adalah imam masjid shalat tarawih ketika selesai melaksanakan shalat witir mereka mengomandoi untuk bersama-sama membaca niat untuk melakukan puasa besok harinya.

Perbuatan ini adalah perbuatan yang tidak di contohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga orang-orang saleh setelah beliau. Yang sesuai tuntunan adalah berniat untuk melaksanakan puasa pada malam hari sebelumnya cukup dengan meniatkan dalam hati saja, tanpa dilafazkan.

Imsak

Tradisi imsak, sudah menjadi tren yang dilakukan kaum muslimin ketika ramadhan. Ketika waktu sudah hampir fajar, maka sebagian orang meneriakkan “imsak, imsak…” supaya orang-orang tidak lagi makan dan minum padahal saat itu adalah waktu yang bahkan Rasulullah menganjurkan kita untuk makan dan minum. Sahabat Anas meriwayatkan dari Zaid bin Sabit radhiyallahu ‘anhuma, “Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau shalat. Maka kata Anas, “Berapa lama jarak antara azan dan sahur?”, Zaid menjawab, “Kira-kira 50 ayat membaca ayat al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menunda Azan Magrib Dengan Alasan Kehati-Hatian

Hal ini bertentangan dengan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menganjurkan kita untuk menyegerakan berbuka. Rasulullah bersabda,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari Muslim)

Takbiran

Yaitu menyambut datangnya ied dengan mengeraskan membaca takbir dan memukul bedug pada malam ied. Perbuatan ini tidak disyariatkan, yang sesuai dengan sunah adalah melakukan takbir ketika keluar rumah hendak melaksanakan shalat ied sampai tiba di lapangan tempat melaksanakan shalat ied.

Padusan

Yaitu Mandi besar pada satu hari menjelang satu ramadhan dimulai. Perbuatan ini tidak disyariatkan dalam agama ini, yang menjadi syarat untuk melakukan puasa ramadhan adalah niat untuk berpuasa esok pada malam sebelum puasa, adapun mandi junub untuk puasa Ramadhan tidak ada tuntunannya dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mendahului Puasa Satu Hari Atau Dua Hari Sebelumnya

Rasulullah telah melarang mendahului puasa ramadhan dengan melakukan puasa pada dua hari terakhir di bulan sya’ban, kecuali bagi yang memang sudah terbiasa puasa pada jadwal tersebut, misalnya puasa senin kamis atau puasa dawud. Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian mendahului puasa ramadhan dengan melakukan puasa satu hari atau dua hari sebelumnya. Kecuali bagi yang terbiasa melakukan puasa pada hari tersebut maka tidak apa-apa baginya untuk berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perayaan Nuzulul Qur’an

Yaitu melaksanakan perayaan pada tanggal 17 Ramadhan, untuk mengenang saat-saat diturunkannya al-Qur’an. Perbuatan ini tidak ada tuntunannya dari praktek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula para sahabat sepeninggal beliau.

Berziarah Kubur Karena Ramadhan

Tradisi ziarah kubur menjelang atau sesudah ramadhan banyak dilakukan oleh kaum muslimin, bahkan di antara mereka ada yang sampai berlebihan dengan melakukan perbuatan-perbuatan syirik di sana. Perbuatan ini tidak disyariatkan. Ziarah kubur dianjurkan agar kita teringat dengan kematian dan akhirat, akan tetapi mengkhususkannya karena even tertentu tidak ada tuntunannya dari Rasulullah maupun para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’iin.

Inilah beberapa bid’ah yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, khususnya di negeri kita, semoga Allah ta’ala memberikan kita ilmu yang bermanfaat, sehingga kita bisa meninggalkan perkara-perkara tersebut dan melakukan perbuatan yang sesuai dengan tuntunan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

***

Penulis: Abu Sa’id Satria Buana
Muroja’ah: Ustadz Abu Salman
Artikel www.muslim.or.id

HUKUM IKUT SERTA DALAM PARLEMEN

Oleh : Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani


Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Bagaimana hukum ikut serta dalam majelis umat (parlemen) dan majelis sejenis yang ada di negeri- negeri Islam yang kadang-kadang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan oleh Allah?

Jawaban.
Yang saya yakini, bahwa setiap negara yang tidak berhukum dengan hukum Allah secara jelas dan juga tidak mengamalkan hukum-hukum Allah tersebut, maka tidak boleh bagi seorang muslim ikut serta menjadi anggota pada majelis negara tersebut ataupun parlemennya.

Oleh karena itu saya berpendapat bahwa tidak ada manfaatnya bagi kaum muslimin untuk ikut serta dalam hukum yang tidak diturunkan oleh Allah, terutama untuk masa depan mereka yang panjang.

Karena dampak keikutsertaan ini tidak memberikan manfaat secara konkrit, karena biasanya kelompok kecil yang ingin menegakkan syariat ini suaranya hilang tertelan suara-suara kelompok lain yang pada akhirnya mereka tidak memperoleh apa- apa kecuali fitnah bagi diri mereka sendiri.

Mereka ini sering mengatakan bahwa boleh melanggar syariat dalam rangka mencapai maslahat yang besar walaupun dengan melakukan mafsadah (kerusakan) yang kecil, namun kenyataannya tidak ada sedikitpun maslahat yang mereka peroleh; tidak besar dan tidak pula kecil.

Praktek ini telah dilakukan oleh sebagian jamaah jamaah Islam di Suria. Mereka ikut serta dalam parlemen Suria, padahal di dalamnya terdapat apa yang dinamakan dengan hukum negara. Akhirnya kaum muslimin tidak mendapatkan manfaat apapun dari keikutsertaan ini kecuali hanya mencari-cari pembenaran terhadap perbuatan yang mereka lakukan dan penyelewengan-penyelewengan yang mereka kerjakan dengan dalih bahwa kemaslahatan umatlah yang menuntut hal itu, serta dengan anggapan bahwa penegakkan hukum-hukum syariat terlalu dini untuk dilaksanakan. Padahal menurut syariat, tidak boleh memberikan loyalitas kepada orang yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah. Dengan keikutsertaan ini, akhirnya mereka mendapat kerugian yang nyata dan tak ada keuntungan sedikitpun yang berarti.

Jika kita menginginkan tegaknya hukum Islam dan berdirinya daulah (negara) Islam, maka wajib bagi kita membentuk masyarakat Islam. Dari masyarakat Islam inilah akan tegak hukum Islam. Dan tegaknya hukum Islam menurut logika pasti berawal dari masyarakat Islam.

Saya sangat yakin bahwa perjuangan keras yang dilakukan selama setengah abad lebih oleh jamaah-jamaah Islam tidak mungkin akan berakhir dengan sia-sia. Tapi kenyataannya perjuangan mereka yang sangat panjang berakhir dengan kegagalan seperti debu yang beterbangan. Kenapa ini terjadi? Karena mereka berjuang menegakkan daulah Islam tapi dengan cara yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.

Kalian mengetahui berapa lama Rasulullah tinggal di Makkah, berdakwah, menanamkan benih-benih tauhid dalam hati mereka yang sekian lama berkubang dalam kesyirikan dan kekafiran kepada Allah subhana wa ta'ala.

Kemudian tatkala Allah mengizinkan beliau untuk hijrah ke Madinah, disana mulailah beliau menancapkan tonggak-tonggak untuk berdirinya daulah Islam.

Menjadi tugas kita hari ini untuk merealisasikan dua hal yang saya namai dengan tashfiyyah (pemurnian) dan tarbiyah (pembinaan). Kami mengajak para dai-dai Islam untuk mengatasi perselisihan yang terjadi antara mereka di dalam manhaj (cara beragama) dan prakteknya dengan cara berlandaskan dua hal tersebut.

Maksud dari tashfiyyah adalah: Kita murnikan Islam dari segala sesuatu yang masuk ke dalam Islam, yang jumlahnya terlalu banyak untuk disebut. Dan ini membutuhkan kerja teramat keras dari para ahli ilmu (untuk memurnikannya kembali).

Kita bersihkan Islam ini dari aqidah-aqidah yang bertentangan dengan Islam. Kita bersihkan kitab-kitab sunnah dari hadits-hadits yang dhaif dan palsu. Kita bersihkan kitab-kitab tafsir dari Israiliyat yang merusak. Kita bersihkan fiqih dari hukum-hukum (yang keliru) yang senantiasa masih diikuti oleh banyak ulama. Kita bersihkan kitab-kitab akhlaq, perilaku dari penyimpangan-penyimpangan dan seterusnya.

Termasuk hal yang memprihatinkan adalah banyak ulama yang lupa atau mungkin berpura-pura lupa bahwa keadaan Islam hari ini sangat jauh berbeda dengan keadaan Islam di masa awal (zaman shahabat). Mereka menduga bahwa jika kita berusaha menegakkan hukum Islam maka undang-undang dan peraturan telah tersedia dengan apa yang telah kita miliki saat ini berupa kitab-kitab. Padahal sering kami sebutkan bahwa kitab-kitab ini di dalamnya terdapat banyak penyimpangan-penyimpangan terhadap syari'ah.

Sebagai contoh saya sebutkan, bahwa seorang dai Islam yang telah berpulang ke rahmatullah telah menulis sebuah kitab tentang undang-undang Islam. la menyebutkan di dalamnya permasalahan-permasalahan yang diambil dari madzhab Hanafy. Padahal ia belum mempelajari fiqih secara sunnah, atau sekurang-kurangnya ia belum menyertakan sunnah yang shahih dalam dirasah-nya terhadap madzhab Hanafi.

la menyebutkan dalam undang-undang ini bahwa jika telah tegak hukum Islam pada hari ini maka boleh bagi seorang hakim muslim membunuh seorang muslim yang membunuh orang kafir. Padahal ini jelas bertentangan dengan hadits yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari:

"Tidaklah seorang muslim dibunuh, disebabkan (ia telah membunuh) seorang kafir."

Ini adalah sebuah contoh singkat yang menerangkan kepada kita bahwa seandainya kita telah menegakkan hukum Islam dan kita mengumumkan hal itu, maka kita tetap tidak akan sanggup menerapkan hukum secara utuh dan benar. Kenapa? Karena orang yang tidak mempunyai sesuatu, tidak akan bisa memberikan sesuatu.[1]

Yang lebih memprihatinkan adalah bahwa mereka bukan hanya mengambil sumber dari 4 madzhab dengan alasan persatuan saja tapi mereka juga mengambil sumber dari madzhab syi 'ah.

Mungkin kalian mendengar apa yang terjadi di Mesir sejak beberapa tahun yang lalu; apa yang mereka sebut dengan pendekatan antar madzhab, dan yang mereka maksudkan adalah pendekatan antara madzhab ahlus-sunnah dan madzhab syi'ah.

Akibatnya sebagian mereka (ahlus-sunnah) menjadi kesyi'ah-syi'ahan, dan terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran syi'ah. Dan anehnya tidak ada seorang syi 'ah-pun yang terpengaruh secara mutlak dengan ahlus-sunnah.

Lebih parah lagi, mereka juga mengambil pendapat-pendapat madzhab zaidiyyah, serta me-ruju' kepada kitab-kitab mereka. Sebagian ulama di universitas Damaskus dalam beberapa program-programnya berpedoman dengan kitab Musnad Zaid. Padahal Musnad Zaid menurut ulama ahlus sunnah diriwayatkan oleh seorang pendusta dan pemalsu (hadits).

Semua hal ini terjadi karena disebabkan tidak adanya pelaksanaan pokok pertama, yaitu tashfiyyah (pemurnian), yang selanjutnya diteruskan dengan pokok kedua yaitu tarbiyah.

Dan saat ini saya melihat masalah besar yang melanda sebagian salafiyyun yang telah Allah berikan nikmat berupa petunjuk kejalanNya yang lurus, yaitu mengikuti Al Kitab dan Sunnah, akan tetapi sava melihat satu kekurangan pada diri ikhwan-ikhwan kita, salafivvin, di berbagai negeri Islam, yaitu ketika mereka lebih lebih mementingkan masalah tashfiyyah (pemurnian) daripada tarbivah (pembinaan), sehingga kita lihat penyimpanaan-penyimpangan dalam akhlaq dan mu'amalah (pergaulan mereka)[2]. Maka kitapun akhirnya hidup dengan pembinaan yang sama seperti yang dialami oleh bapak-bapak dan kakek-kakek kita.

Pada prinsipnya kita akan membiarkan perbuatan para penguasa setelah kita menasehati mereka dengan cara yang sesuai dengan kenyataan dan zaman. Dan yang lebih penting kita membina diri kita dan anak-anak kita, yang berarti kita menaburkan benih-benih yang akan tumbuh menjadi cikal bakal tegaknya hukum Islam dan berdirinya daulah Islamiyah.

Adapun mereka yang ridha masuk parlemen yang tidak berdasarkan hukum Allah dan menganggap masuk parlemen itu karena tujuannya untuk mencegah dan mengurangi kejelekan, maka orang-orang seperti ini tidak boleh langsung dikafirkan bahkan ia mungkin mendapat pahala. Akan tetapi kita katakan kepada mereka bahwa masuknya mereka ke dalam parlemen tersebut tidak akan meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang telah ada.

Dan kebanyakan bangsa-bangsa Islam saat ini serta penguasa yang muslim, tidak memahami makna laa ilaaha illallah yang merupakan masalah yang sangat besar. Sayang sekali apabila masalah yang sangat besar ini kita abaikan, sementara kita sibuk membenarkan/meluruskan masalah-masalah hukum saja dan membiarkan kaum muslimin berada dalam kesesatan yang nyata. Karena itu kita harus mengajak kaum muslimin agar mereka memahami syariat mereka, khususnya azas syariat ini yaitu tauhid.

_________________________
Catatan kaki dari penerjemah:

[1] Maksud beliau rahimahullah: Bagaimana mungkin mereka akan menegakkan hukum Islam yang benar sedangkan mereka sendiri tidaklah mengetahui bagaimana hukum Islam yang benar yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah yang shahih -pent.
[2] Garis bawah dan penebalan adalah dari penterjemah, karena menganggap bahwa ucapan beliau rahimahullah tersebut pada saat ini merupakan peringatan yang amat penting bagi kalangan salafiyyin, khususnya yang ada di Indonesia, -pent.-


[Disalin dari buku Majmu'ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Al-Bani, hal 111-116, Penerjemah Adni Kurniawan, Pustaka At-Tauhid]

WASIAT EMAS BAGI AHLUS SUNNAH PENGIKUT MANHAJ SALAF

Oleh : Syaikh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi -Hafidhahullahu-


JANGANLAH MENGAMBIL ILMU KECUALI DARI AHLUS SUNNAH
Imam Muhammad bin Sirin pernah berkata : Sesungguhnya ilmu itu adalah agama maka lihatlah dari siapa kalian mengambil ilmu.

Beliau juga berkata : "Mereka (salaf/sahabat) dahulu tidak pernah bertanya tentang isnad (silsilah periwayat hadits) tetapi ketika terjadi fitnah mereka berkata : sebutkan kepada kami guru-guru kalian. Lalu dilihat, bila dia Ahlus Sunnah maka diambil haditsnya, tapi jika ahli bid’ah maka ditolak haditsnya".[1]

Pada saat sebagian mereka yang bertaubat tidak memperdulikan untuk mengenal pokok dan ketentuan ini, mereka menjadi santapan syubhat, dan sasaran permainan orang-orang yang mengaku-ngaku salafi dan punya ilmu, tidaklah seseorang yang mengaku dirinya memiliki ilmu dan (pura-pura) menampakkan hubungannya dengan kibarul ulama Ahlus Sunnah melainkan kamu mendapatkan para pemuda yang baru bertaubat telah duduk mengelilinginya tanpa diteliti hakikat, dan tanpa diperiksa sejarah hidupnya, ketika dia melihat pengikutnya sudah sangat banyak, dan para pendukungnya sudah sangat menyukainya mulailah dia menampakkan apa yang disembunyikannya dan yang diinginkannya, kamu melihatnya mulai menyeru kepada kepemimpinan dalam dakwah, atau kepada persatuan (antar semua golongan-pent), atau yang lainnya dari hal-hal yang menyelisihi pokok-pokok Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Pada waktu itulah mereka yang baru bertaubat mulai tampak goncang dan terpecah menjadi dua kelompok atau tiga : kelompok pendukung, kelompok oposisi, dan kelompok yang bingung, sesungguhnya hal ini terjadi karena dua hal :

Pertama :
Tidak adanya keinginan mereka (yang bertaubat) untuk menuntut ilmu yang bermanfaat terutama tentang pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena ilmu merupakan penjaga bagi pemiliknya dari ketergelinciran.

Tidakkah kamu melihat bagaimana ilmu itu bisa menjaga Abi Bakroh Radhiyallahu anhu pada waktu perang Jamal ketika mereka mengangkat Aisyah Ummul mukminin Rodhiyallahu anha maka sebuah hadits yang beliau dengar dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjaganya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda -ketika mendengar kabar matinya Kisra/raja Persi dan pengangkatan anak perempuannya (sebagai ratu-pent) - : Tidak akan beruntung suatu kaum yang dipimpin oleh seorang wanita, ketika terjadi fitnah beliau ingat hadits ini maka beliau terjaga darinya, yang mana beliau berkata : Allah menjagaku dengan sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pada waktu matinya Kisra, beliau bertanya : siapa yang akan mengantinya?. Mereka menjawab : Anak perempuannya".

Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : Tidak akan beruntung suatu kaum yang dipimpin oleh wanita, beliau (Abu Bakroh) berkata : Ketika Aisyah datang ke Bashroh aku ingat sabda Rasulillah Shallallahu alaihi wa sallam ini, maka Allah menjagaku dengannya. [2] .

Kedua.
Tidak merujuk kepada ahli ilmi, padahal seharusnyalah untuk bertanya kepada ahli ilmu atau kepada muridnya dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang mengenal orang yang ingin diambil darinya ilmunya tersebut. Dan ditanya : Apakah dia itu dari tholibul ilmi as-salafi atau bukan ? apakah dia itu betul-betul belajar ilmu yang benar yang layak untuk diambil ilmunya atau tidak ?

Jika jawabannya tidak, maka selesai perkara -alhamdulillah-, jika jawabannya positif maka ditimba darinya ilmu tanpa adanya fanatik tapi ditempatkan pada kedudukannya yang layak.

Ini adalah point yang sangat penting yaitu membedakan antara ahli ilmi ar-rabbani yang merupakan rujukan dalam masalah-masalah ilmiyah dan dalam masalah (nazilah) yang sedang terjadi seperti dua orang imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani [3]dan Abdul Aziz bin Abdillah Bin Baz [4] rahimahumallahu dan yang masih hidup diantara mereka dari kalangan ulama rabbani seperti Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin [5]. Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan, Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali dan Syaikh kami Muqbil Bin Hadi Al-Waadi’i [6] serta yang setingkat dengan mereka dari kalangan ahli ilmi dan fatwa dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah [7]. Mereka itu memiliki kedudukan masing-masing. Dan antara tholibil ilmi yang dikenal ilmu dan berpegang teguhnya dengan sunnah lewat buku-buku mereka serta pujian ahli ilmi ar-rabbani bagi mereka, mereka itu memiliki kedudukan masing-masing.

Dan yang dibawah mereka dari tholibul ilmu yang dikenal kesalafiyaannya serta kemampuannya dalam mengajar.

_________
Foote Note
[1]. Diriwayatkan oleh Muslim dalam mukaddimah shohihnya.
[2]. Diriwayatkan oleh Bukhari (7099), Nasai (5403) dan Tirmidzi (2365) dan ini adalah lafadz beliau.
[3]. Al-Imam Al-Allamah Al-Mujaddid Al-Muhadits Al-Faqih As-Salafy penolong sunnah dan pembasmi bid’ah Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh Al-Albani, beliau -rahimahullah- lahir pada tahun 1334 H dan wafat pada 22 Jumadits Tsani 1420 H -pent.
[4]. Mujaddid millah Imam Ahlus Sunnah Samahatusy syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, beliau -rahimahullah- lahir pada bulan Dzulhijjah 1330 H dan wafat pada 27 Muharram 1420 H -pent.
[5] Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah al-faqih al-fadhil az-zahid al-wari Al-Allamah Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin At-Tamimi, beliau lahir pada 27 ramadhan 1347 H dan wafat pada 15 Syawwal 1421H -pent.
[6]. Beliau telah wafat, rahimahullahu
[7]. Tidak lupa juga Fadhilatusy Syaikh Al-Allamah Muhaditsul Madinah dan pengajar di masjid Nabawi Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr Hafidhahullah-pent.

[Dialih bahasakan dari : al-Washayya as-Saniyyah lit-Ta`ibi as-Salafiyyah oleh Syaikh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi -Hafidhahullahu-, Alih Bahasa : Abu Abdirrahman as-Salafy, Lc, Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyah Edisi 13 Th III Shafar 1426H/April 2005M]